Sebagai seorang ibu, Astrid Tiar selalu mengawasi anak-anaknya, termasuk dalam urusan bermain gadget. Apalagi, kedua buah hati Astrid masih kecil yang penuh dengan rasa penasaran bahkan putri sulungnya, Anabelle sudah kena demam K-Pop. Ia pun tak ingin kedua anaknya kecanduan main gadget.
Untuk menghindari hal itu, Astrid rupanya memiliki cara tersendiri. Ia kerap mengajak anak-anaknya bermain permainan tradisional agar buah hatinya bisa berhubungan sosial dengan baik.

Astrid mengenalkan beberapa permainan tradisional seperti congklak, petak umpat, dan taplak gunung. Kedua anak Astrid, Anabelle dan Isabel pun antusias memainkannya.

“Aku enggak mau anakku tumbuh dengan individualisme,” ujar Astrid saat ditemui usai peluncuran produk So Klin Experience Sakura, di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (28/2). “Aku ingin mereka jadi orang yang bersosialisasi dalam lingkungannya. Jangan sampai tetangga sebelah dia enggak kenal. Jadi, sekarang mereka sudah punya geng anak tetangga. Jadi, saling manggil.”

Dengan permainan itu, Astrid ingin mengajarkan bahwa manusia itu hidup berkelompok. Ia juga berharap anak-anaknya bisa tumbuh menjadi pribadi yang suka bergaul dan peduli dengan sekitarnya.

“Yang aku bangun, bagaimana bermain bersama-sama. Kalau gadget mulu, kita akhirnya enggak ngobrol, kita tidak share,” tutur Astrid. “Aku enggak mau kebiasaan itu akan mereka bawa sampai mereka dewasa.”

Sayangnya, Astrid mengaku kesulitan untuk menemukan alat-alat permainan tradisional di zaman sekarang. Bahkan untuk mencari karet saja susah.

“Susah banget nyari congklak. Kemarin beli karet satu kilo itu susah,” kata Astrid. “Ingin bikin karet yang panjang banget buat main karet, itu susah dicari. Kalau dulu karet di mana saja dapat.”

Selain itu, wanita berusia 32 tahun ini juga mengajarkan anak-anaknya agar melakukan sesuatu secara maksimal. Ketika buah hatinya meraih prestasi, dia tak pernah memberikan hadiah.

“Aku selalu memberikan reward-nya dengan yang, ‘Oh bagus, kamu hebat’. Kalau reward-nya barang, dia tahu yang dia capai adalah barang itu,” ucap Astrid. “Aku tidak menjadikan anak aku konsumtif. Aku membuat gaya konservatif digabung dengan gaya milenial zaman sekarang.”